"La Tahzan Innallaha Ma'ana "Jangan bersedih, Sesungguhnya ALLAH bersama kita"
Firman diatas mengingatkanku agar tidak bersedih. Aku harus kuat, aku harus tegar. Memang sulit untukku menjalaninya, tetapi aku harus ikhlas menerima keputusan Tuhan. Aku yakin aku bisa. Ya, aku bisa menjalani ujian dari Tuhan. Ini hanya sebuah 'belokan' dari Tuhan, karena Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.
Awalnya pertemuanku dengannya sangat manis. Kita bertemu di sebuah gedung olahraga. Dia yang mungkin ingin mengetahui siapa aku kemudian mencari kontakku lewat temanku yang juga mengenal aku. Lalu ia datang, menyapaku terlebih dahulu lewat jejaring sosial. Akupun meresponnya. Lalu kita berkenalan dan berkomunikasi. Kita pun sempat bertemu beberapa kali, sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya lewat telepon setelah satu bulan lamanya kita saling mengenal satu sama lain. Aku yang saat itu kaget bercampur senangpun akhirnya menerima perasaannya. Dan pada saat itulah AKU dan DIA menjadi KITA.
Banyak perubahan setelah kita bersatu. Handphoneku yang tadinya hanya ku gunakan seperlunya, kini ku gunakan sepanjang hari. Saat aku hampir lupa mengerjakan shalat, ada dia yang mengingatkanku. Saat aku ingin tidur, dia yang mengucapkan selamat malam kepadaku. Saat aku terbangun dari tidurku pun ia tidak lupa mengucapkan selamat pagi kepadaku. Saat aku jatuh, ia yang memberiku semangat. Ah, sungguh indah hari-hari itu.
Semakin hari, rasa sayangku untuknya semakin bertambah. Sampai-sampai aku rela berkorban untuknya, untuk dia yang tersayang. Yang terpenting untukku adalah, menjaganya agar selalu tersenyum. Aku sakit jika ia sedih. Tetapi mungkin skenario Tuhan lain. Dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan. Pertengkaran kecil pun terjadi antara kita. Sampai ia berkata untuk menyudahi semuanya. Aku pun terkejut, rasanya seperti tersambar petir di tengah gurun pasir. Aku tidak tahu apa alasannya ingin mengakhiri semua ini. Sangat singkat cerita kita. Dan KITA pun kembali menjadi AKU dan DIA
Sakit memang, ditinggal laki-laki yang kita cintai dengan alasan yang tidak pasti. Hilang sudah semangatku. Sampai akhirnya kondisi kesehatanku drop. Aku tidak tahu kenapa bisa sampai seperti ini. Mungkin karena aku terlalu memikirkan hal itu, sampai-sampai aku lupa menjaga kesehatanku. Aku pun kembali seperti dulu, menjalani hidupku seperti biasanya. Aku belum terbiasa dengan keadaan ini, tapi aku yakin aku bisa menjalaninya, karena orang bisa karena terbiasa.
Mungkin aku dan dia harus saling introspeksi, mungkin aku dan dia akan dipersatukan kembali dilain kesempatan, atau mungkin aku dan dia akan dipertemukan kembali dengan hubungan yang berbeda. Entahlah, aku tak pernah tahu skenario Tuhan. Aku hanya pasrah, menjalani apa yang digariskan oleh Tuhan. Perjalananku masih panjang. Aku tak ingin terus larut dalam kesedihanku, aku harus bangkit. Aku harus semangat, aku harus kembali seperti dulu lagi. Aku tak ingin terus terpuruk dengan keadaan ini. Masih banyak hal lain yang harus aku kerjakan. Aku ingin kembali menata masa depanku.
Entahlah, Tuhan pasti akan memberiku akhir cerita yang indah. Karena Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan....